Dalam dunia keuangan modern, istilah nilai wajar atau fair value bukan sekadar angka dalam laporan keuangan. Harga tersebut mencerminkan realitas pasar yang sesungguhnya berapa harga yang bersedia dibayar pembeli atau diterima penjual dalam transaksi yang wajar. Di Indonesia, PSAK 68 tentang Pengukuran Nilai Wajar mengatur dasar pengaturan konsep ini secara komprehensif, yang Ikatan Akuntan Indonesia (IAI) sahkan dan mengadopsi prinsip internasional dari IFRS 13 (IAI, 2015)).
Penerapan PSAK 68 tidak hanya penting bagi akuntan dan auditor, tetapi juga bagi lembaga keuangan, investor, hingga penyedia jasa penilaian independen. Melalui standar ini, entitas bisnis dapat menilai aset dan liabilitasnya dengan metode yang lebih objektif, transparan, dan dapat dibandingkan.
Selain itu, memahami setiap level tidak hanya membantu memenuhi kewajiban pelaporan, tetapi juga memperkuat kredibilitas dan kepercayaan publik terhadap laporan keuangan perusahaan. Artikel ini akan membahas pengertian nilai wajar menurut PSAK 68, penjelasan lengkap tiap level hirarki, serta praktik terbaik dari jasa penilaian agar hasil valuasi tetap sesuai standar dan transparan bagi pengguna laporan keuangan.
Memahami Nilai Wajar Menurut PSAK 68
Mengutip dari laman feb.mercubuana.ac.ic. Menurut PSAK 68, Ikatan Akuntan Indonesia mendefinisikan nilai wajar sebagai “harga yang pelaku pasar akan terima untuk menjual suatu aset atau harga yang pelaku pasar akan bayar untuk mengalihkan suatu liabilitas dalam transaksi teratur antara pelaku pasar pada tanggal pengukuran” (Ikatan Akuntan Indonesia, PSAK 68)).
Definisi ini menegaskan bahwa pengukuran nilai wajar tidak mendasarkan pada harga historis, selanjutnya melainkan pada kondisi pasar saat ini. Artinya, nilai wajar harus mencerminkan persepsi pelaku pasar independen bukan asumsi internal entitas.
blog.ui.ac.id mengutip beberapa unsur penting dalam definisi tersebut antara lain:
- Harga (price) yang mencerminkan kondisi pasar saat tanggal pengukuran.
- Penilai harus menilai aset atau liabilitas yang mereka identifikasi dengan jelas.
- Pelaku pasar (market participants) harus independen, berpengetahuan, dan bersedia bertransaksi.
- Transaksi teratur (orderly transaction) di pasar utama atau pasar yang paling menguntungkan.
Dengan demikian, tujuan utama PSAK 68 adalah menciptakan konsistensi dan transparansi dalam pengukuran nilai wajar, sehingga pengguna laporan keuangan dapat menilai dengan lebih objektif posisi dan risiko suatu entitas.
Hirarki Nilai Wajar: Tiga Level Berdasarkan PSAK 68
Mengutip dari laman mercubuana.ac.id dan staff.blog.ui.ac.id, PSAK 68 membagi input pengukuran nilai wajar ke dalam tiga level hirarki, berdasarkan tingkat keandalan dan observabilitas datanya. Struktur ini memastikan bahwa entitas mengutamakan data pasar yang dapat mereka observasi sebelum menggunakan estimasi atau asumsi subjektif.
Level 1 – Input Pasar Aktif yang Paling Andal
Pada Level 1 nilai wajar, entitas menggunakan harga kuotasian (quoted prices) di pasar aktif untuk aset atau liabilitas yang identik. Kami menganggap data ini paling objektif karena berasal langsung dari pasar yang likuid dan transparan.
Contoh:
Saham perusahaan yang tercatat di Bursa Efek Indonesia (BEI) atau obligasi pemerintah dengan volume transaksi tinggi. Dalam kasus seperti ini, penilai cukup mengacu pada harga pasar tanpa perlu melakukan penyesuaian.
Dalam praktik jasa penilaian, penilai sering kali mengacu pada Level 1 sebagai acuan utama karena Level 1 memberikan hasil yang paling dapat diverifikasi. Namun, jika pasar mengalami volatilitas ekstrem atau transaksi menjadi tidak teratur, penilai harus menilai ulang apakah harga kuotasi tersebut masih relevan (PKF Hadiwinata, 2022).
Level 2 – Input Observabel Namun Tidak Identik
Jika harga pasar aktif tidak tersedia, entitas dapat beralih ke Level 2 nilai wajar. Input pada level ini masih bersifat observabel, tetapi mungkin tidak langsung identik dengan aset atau liabilitas yang perusahaan nilai.
Contohnya adalah harga kuotasian untuk aset serupa di pasar aktif, atau harga untuk aset identik di pasar yang kurang aktif. Input lain yang juga tergolong Level 2 antara lain suku bunga pasar, spread kredit, dan volatilitas tersirat.
Dalam praktik penilaian properti, misalnya, seorang penilai dapat menggunakan data transaksi properti serupa di wilayah berbeda, kemudian menyesuaikan dengan kondisi fisik, lokasi, atau tingkat likuiditas. Kita masih dapat mengobservasi pendekatan ini, namun kita tetap memerlukan analisis penyesuaian yang matang dan terdokumentasi dengan baik. (Penilaian.id, 2023).
Tantangan terbesar pada Level 2 adalah menentukan berapa besar penyesuaian yang wajar, sehingga nilai wajar tetap mencerminkan kondisi pasar yang sebenarnya.
Level 3 – Input Tidak Dapat Diobservasi (Subjektif)
Pada Level 3 nilai wajar, entitas menggunakan input yang tidak dapat diobservasi karena mereka tidak memiliki data pasar yang relevan. Perusahaan biasanya menggunakan teknik penilaian berbasis model keuangan internal seperti discounted cash flow (DCF) atau income approach dengan asumsi tertentu pada level ini.
Contoh penerapannya adalah dalam penilaian aset tak berwujud seperti hak paten, merek dagang, atau teknologi yang belum memiliki pasar aktif. Dalam hal ini, penilai harus menyusun proyeksi arus kas, menentukan discount rate, dan menilai potensi pertumbuhan berdasarkan asumsi pasar. (Slideshare.net, 2022).
Karena tingkat subjektivitasnya tinggi, PSAK 68 mewajibkan pengungkapan rinci terhadap asumsi, teknik penilaian, serta analisis sensitivitas terhadap perubahan variabel utama. Langkah ini penting agar pengguna laporan keuangan memahami risiko dan ketidakpastian dari hasil penilaian.
Tantangan dan Best Practices dalam Jasa Penilaian
Penerapan hirarki nilai wajar tidak selalu mudah, terutama dalam konteks pasar Indonesia yang sering kali belum sepenuhnya likuid. Berdasarkan pengalaman profesional di bidang jasa penilaian aset dan keuangan, berikut beberapa praktik terbaik yang terbukti efektif:
- Pahami kondisi pasar secara menyeluruh.
Sebelum menentukan level input, pastikan pasar aktif benar-benar ada dan transaksi bersifat teratur. Misalnya, selama pandemi COVID-19, banyak pasar mengalami penurunan aktivitas sehingga penilai harus menilai kembali apakah harga yang tersedia masih mencerminkan transaksi wajar (PKF Hadiwinata, 2021). - Dokumentasikan sumber data dan asumsi.
Untuk Level 2 dan 3, penting mencatat asal data, metode penyesuaian, dan dasar pemilihan asumsi. Dokumentasi yang lengkap membantu proses audit dan meningkatkan kepercayaan klien. - Gunakan analisis sensitivitas.
Khususnya untuk Level 3, menyertakan perbandingan skenario seperti kasus dasar, optimis, dan pesimis, pembuat laporan memahami risiko dari setiap asumsi yang digunakan. - Kolaborasi multidisiplin.
Untuk aset kompleks, seperti instrumen derivatif atau properti khusus, melibatkan ahli keuangan, penilai properti, atau konsultan pasar akan memperkuat validitas hasil penilaian. - Transparansi dalam pengungkapan.
PSAK 68 mewajibkan entitas untuk mengungkapkan teknik valuasi, input utama, dan dampak perubahan asumsi terhadap laporan keuangan, terutama untuk pengukuran yang menggunakan Level 3.
Dengan menerapkan langkah-langkah tersebut, perusahaan tidak hanya mematuhi standar akuntansi, tetapi juga menunjukkan komitmen terhadap integritas dan profesionalisme dalam pelaporan keuangan.
Implikasi dan Penerapan di Indonesia

Dalam praktiknya, banyak entitas di Indonesia masih menghadapi kendala dalam penerapan penuh PSAK 68. Tantangan umum meliputi keterbatasan pasar aktif, ketersediaan data transaksi serupa, hingga pemahaman teknis terhadap model valuasi.
Namun di sisi lain, penerapan hirarki nilai wajar memberikan manfaat besar, antara lain:
- Meningkatkan keandalan laporan keuangan.
Dengan menggunakan input observabel (Level 1 dan 2), hasil penilaian menjadi lebih objektif. - Mendorong transparansi dan kredibilitas.
Investor dan regulator dapat menilai sejauh mana entitas bergantung pada input subjektif. - Menjadi dasar pengambilan keputusan strategis.
Nilai wajar membantu manajemen menilai kinerja, risiko, dan potensi pasar aset secara akurat.
Studi oleh Charis Adit Trianto (Universitas Airlangga, 2019) menemukan bahwa penggunaan hirarki nilai wajar dalam laporan perbankan Indonesia periode 2014–2018 berpengaruh signifikan terhadap relevansi nilai aset di pasar modal. Penelitian lain oleh Rizki Amalia (Universitas Jenderal Soedirman, 2017) juga menunjukkan bahwa penerapan PSAK 68 berdampak positif terhadap persistensi laba dan transparansi pelaporan keuangan.
Kedua studi ini menegaskan bahwa penerapan PSAK 68 bukan hanya kewajiban formal, tetapi juga sarana untuk memperkuat kepercayaan investor dan stabilitas pasar keuangan nasional.
Tips Praktis untuk Entitas dan Penilai
Berikut beberapa tips yang dapat Anda terapkan agar auditor menerima hasil penilaian nilai wajar sesuai standar PSAK 68:
- Verifikasi data pasar aktif.
Pastikan Anda menggunakan sumber data yang berasal dari transaksi teratur dan yang dapat diakses oleh publik.
- Catat dasar penyesuaian.
Untuk Level 2, kemudian dokumentasikan logika di balik setiap penyesuaian harga atau asumsi.
- Ungkapkan asumsi utama.
Selenjutnya perusahaan harus menyertai Level 3 dengan pengungkapan rinci tentang variabel yang paling memengaruhi hasil.
- Perbarui secara berkala.
Untuk itu perlu lakukan evaluasi ulang jika terjadi perubahan kondisi pasar atau faktor ekonomi makro.
- Gunakan konsultan independen.
Untuk aset kompleks, kemudian bisa bekerja sama dengan penilai profesional akan meningkatkan kredibilitas hasil.
Penerapan Tigal Level Nilai Wajar PSAK 68
Memahami dan menerapkan tiga level nilai wajar berdasarkan hirarki PSAK 68 adalah fondasi penting dalam menghasilkan laporan keuangan andal transparan. Perusahaan memprioritaskan masukan pasar aktif, lalu beralih ke masukan yang dapat diamati dan akhirnya menggunakan masukan yang tidak dapat diamati.
Selanjutnya, entitas dapat memastikan pengukuran nilai wajar mencerminkan realitas ekonomi sesungguhnya.
Bagi penyedia jasa penilaian profesional, kepatuhan terhadap PSAK 68 bukan sekadar memenuhi regulasi, tetapi bentuk tanggung jawab menjaga integritas hasil penilaian. Transparansi dalam metodologi, dokumentasi kuat, pengungkapan tepat adalah kunci membangun kepercayaan publik dan memperkuat reputasi perusahaan di industri valuasi.
Dengan penerapan yang tepat, PSAK 68 tidak hanya membantu entitas dalam pelaporan, tetapi menjadi alat strategis pengambilan keputusan investasi dan manajemen risiko.***