Dalam dunia keuangan, istilah risk free rate sering muncul ketika kita berbicara tentang valuasi aset, analisis saham, atau perhitungan investasi jangka panjang. Konsep ini sederhana, tetapi dampaknya sangat besar. Jika salah menentukan angka, hasil valuasi bisa melenceng jauh. Oleh karena itu, memahami Risk Free Rate Indonesia 2025 menjadi penting, apalagi kondisi moneter dan pasar obligasi sedang dinamis.
Simak selengkapnya akan mengulas arti risk free rate, fungsinya dalam model keuangan, bagaimana cara menentukan angkanya di Indonesia tahun 2025, serta langkah praktis menghitungnya dengan contoh.
Seperti diketahui memasuki tahun 2025, kondisi perekonomian Indonesia menghadapi tantangan sekaligus peluang baru. Investor, analis, hingga praktisi keuangan semakin sering menyoroti pentingnya risk free rate sebagai patokan dasar dalam menilai kelayakan investasi. Angka ini bukan hanya sekadar data statistik, melainkan penentu arah dalam perhitungan valuasi perusahaan, proyeksi arus kas, maupun strategi investasi jangka panjang.
Apa Itu Risk Free Rate?
Mengutip dari laman investopedia.com, secara definisi, risk free rate adalah tingkat pengembalian yang diasumsikan bebas dari risiko gagal bayar (default). Dalam teori keuangan, angka ini dipandang sebagai dasar dari semua instrumen investasi. Artinya, investasi berisiko seperti saham atau obligasi korporasi harus memberikan imbal hasil lebih tinggi daripada risk free rate untuk mengompensasi risiko tambahan.
Dalam praktik, risk free rate biasanya diwakili oleh yield obligasi pemerintah jangka panjang yang dianggap aman dan likuid. Dikutip dari laman worldgovernmentbonds.com jika perhitungannya dilakukan dalam rupiah, maka instrumen yang dipilih pun harus berdenominasi rupiah untuk menghindari risiko nilai tukar.
Mengapa Penting dalam Valuasi?
Selain menjadi angka dasar, risk free rate juga berperan dalam beberapa model populer.
- Discounted Cash Flow (DCF): Risk free rate memengaruhi tingkat diskonto. Jika nilainya terlalu rendah, valuasi bisa terlihat terlalu optimistis. Jika terlalu tinggi, hasil valuasi akan cenderung konservatif.
- Capital Asset Pricing Model (CAPM): Digunakan sebagai titik awal untuk menghitung expected return:
Expected Return = Risk Free Rate + β×(Market Risk Premium) - Weighted Average Cost of Capital (WACC): Komponen cost of equity maupun cost of debt diturunkan dari risk free rate.
Dengan kata lain, risk free rate bukan sekadar angka, melainkan pondasi yang memengaruhi hampir semua keputusan keuangan berbasis valuasi.
Risk Free Rate Indonesia 2025: Data Terbaru
Menurut data terbaru dari Cbonds, yield obligasi pemerintah Indonesia tenor 10 tahun pada 17 September 2025 berada di sekitar 6,353% per tahun. Sumber lain seperti Investing.com dan WorldGovernmentBonds juga menunjukkan kisaran serupa, yakni 6,33%–6,40%.
Sementara itu, suku bunga acuan Bank Indonesia saat ini tercatat 4,75%. Selisih antara BI Rate dan yield obligasi 10 tahun menunjukkan adanya premi tambahan atas risiko durasi, ekspektasi inflasi, dan faktor likuiditas.
Jika mengacu pada kurva imbal hasil (yield curve), obligasi dengan tenor lebih panjang seperti 20 hingga 30 tahun memiliki yield yang sedikit lebih tinggi. Hal ini wajar karena investor menuntut kompensasi lebih untuk memegang aset dengan durasi lebih lama.
Dengan demikian, Risk Free Rate Indonesia 2025 yang wajar dapat diperkirakan berada pada kisaran 6,0%–6,5%.
Cara Menentukan dan Menghitung Risk Free Rate
Menentukan risk free rate bukan sekadar mengambil angka dari satu sumber. Ada beberapa langkah penting yang perlu dilakukan:
- Tentukan tenor yang relevan.
- Untuk valuasi jangka panjang, gunakan obligasi pemerintah 10 tahun atau lebih.
- Untuk horizon pendek, bisa menggunakan obligasi 5 tahun.
- Cari data dari sumber resmi.
- Gunakan situs Kementerian Keuangan, Bank Indonesia, atau platform data obligasi seperti Cbonds, Investing, dan WorldGovernmentBonds.
- Sesuaikan jika diperlukan.
- Jika valuasi menggunakan angka riil, pertimbangkan ekspektasi inflasi.
- Tambahkan premi likuiditas ketika obligasi yang digunakan kurang aktif diperdagangkan.
- Hindari obligasi berdenominasi asing untuk model berbasis rupiah.
- Dokumentasikan asumsi.
- Catatlah tanggal data, jenis obligasi, serta penyesuaian yang Anda lakukan.
- Simpanlah data dalam model sehingga Anda bisa meninjau ulang ketika membutuhkannya.
Contoh Perhitungan
Misalkan Anda ingin menghitung risk free rate untuk model CAPM dengan obligasi pemerintah 10 tahun sebagai acuan.
- Yield obligasi: 6,35%
- Tidak ada premi tambahan likuiditas
- Model menggunakan angka nominal (bukan riil)
Maka, risk free rate = 6,35%.
Jika beta perusahaan adalah 1,2 dan market risk premium sebesar 5,5%, maka:
Expected Return = 6,35% + (1,2×5,5%) = 12,95%
Hasil ini menunjukkan bahwa investor mengharapkan tingkat pengembalian dari saham perusahaan tersebut sekitar 12,95% per tahun.
Tips Praktis dalam Menggunakan Risk Free Rate
- Gunakan rata-rata. Ambil rata-rata yield 3–6 bulan terakhir untuk meredam fluktuasi harian.
- Jaga konsistensi. Jika memakai tenor 10 tahun, pastikan seluruh asumsi lain dalam model juga menyesuaikan horizon jangka panjang.
- Uji sensitivitas. Coba variasikan risk free rate ±0,25% untuk melihat dampaknya terhadap valuasi.
Template Excel untuk Valuasi
Agar lebih praktis, Anda bisa membuat model valuasi di Excel dengan struktur berikut:
- Sheet Assumptions: Memuat risk free rate, beta, market risk premium, dan asumsi pertumbuhan.
- Sheet Proyeksi: Laporan keuangan 5–10 tahun.
- Sheet FCFF: Perhitungan arus kas bebas untuk perusahaan.
- Sheet Terminal & Diskonto: Perhitungan nilai terminal dan nilai sekarang.
- Sheet Sensitivitas: Tabel pengaruh perubahan risk free rate terhadap valuasi.
- Sheet Output: Ringkasan hasil valuasi dan grafik sensitivitas.
Anda bisa mengunduh template dasar dari Smartsheet, CFI, atau Macabacus lalu menyesuaikan dengan asumsi risk free rate terbaru.
Menentukan Risk Free Rate Indonesia 2025 sangat penting dalam analisis keuangan. Data terbaru menunjukkan yield obligasi 10 tahun berada di kisaran 6,3%–6,5%, dan analis dapat menjadikan angka tersebut sebagai acuan dalam perhitungan valuasi.
Ingat langkah-langkah berikut: pilih tenor yang sesuai, ambil data dari sumber resmi, sesuaikan jika diperlukan, dan dokumentasikan semua asumsi. Jangan lupa melakukan uji sensitivitas agar hasil valuasi lebih transparan dan kredibel.
Dengan pendekatan yang tepat, risk free rate akan menjadi fondasi kuat dalam model valuasi Anda, baik untuk DCF, CAPM, maupun WACC.
Contoh Studi Kasus

Penentu Pertumbuhan Yield Obligasi Indonesia Tahun 2004–2020
Pendahuluan
Yield obligasi Indonesia berperan penting dalam pasar keuangan nasional. Indikator ini mencerminkan biaya pinjaman pemerintah sekaligus menjadi acuan bagi investor. Selain itu, pergerakan yield juga menggambarkan tingkat kepercayaan pasar terhadap kondisi makroekonomi.
Sejak 2004 hingga 2020, ekonomi Indonesia mengalami fluktuasi signifikan. Misalnya, inflasi yang berubah-ubah, cadangan devisa yang meningkat, kurs rupiah yang tidak stabil, hingga pengaruh tingkat suku bunga global. Semua faktor ini berpotensi memengaruhi dinamika yield obligasi Indonesia.
Sebuah penelitian dari Universitas Hasanuddin pada tahun 2022 menelaah secara khusus hubungan faktor-faktor tersebut terhadap pertumbuhan yield obligasi selama 16 tahun.
Metodologi Penelitian
Penelitian ini menggunakan model regresi linear berganda untuk mengukur pengaruh variabel makroekonomi terhadap yield obligasi Indonesia. Peneliti menganalisis data berbentuk time series dari tahun 2004 hingga 2020.
Peneliti menguji beberapa variabel, antara lain:
- Variabel dependen: Yield obligasi Indonesia.
- Variabel independen: Inflasi, tingkat suku bunga internasional (SIBOR), cadangan devisa, dan nilai tukar rupiah.
Dengan metode ini, peneliti dapat menilai hubungan langsung dan tidak langsung dari setiap variabel terhadap perubahan yield.
Hasil Penelitian
Inflasi
Hasil analisis menunjukkan inflasi tidak berpengaruh signifikan terhadap yield obligasi Indonesia. Di sisi lain, faktor lain justru lebih dominan. Hal ini menarik karena secara teori inflasi seharusnya berdampak pada imbal hasil obligasi.
Cadangan Devisa
Cadangan devisa terbukti memiliki pengaruh negatif signifikan terhadap yield. Dengan kata lain, semakin tinggi cadangan devisa, semakin rendah yield obligasi Indonesia. Hal ini terjadi karena cadangan devisa memberi sinyal stabilitas ekonomi, sehingga investor tidak menuntut imbal hasil besar.
Tingkat Suku Bunga Internasional (SIBOR)
SIBOR menunjukkan pengaruh positif sekaligus negatif terhadap yield. Misalnya, saat suku bunga global naik, investor meminta imbal hasil lebih tinggi. Namun, dalam kondisi tertentu pengaruhnya bisa melemah. Oleh karena itu, pergerakan SIBOR tetap perlu dipantau oleh investor.
Nilai Tukar Rupiah
Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS tidak menunjukkan pengaruh signifikan terhadap yield obligasi Indonesia. Selain itu, pelemahan kurs tidak selalu membuat yield naik, sehingga faktor ini tidak menjadi penentu utama dalam periode penelitian.
Diskusi
Temuan penelitian ini memberikan wawasan penting. Pertama, inflasi dan kurs rupiah ternyata tidak cukup kuat memengaruhi yield obligasi Indonesia. Kedua, cadangan devisa justru menjadi faktor dominan yang menekan yield. Di sisi lain, SIBOR menegaskan bahwa pasar obligasi Indonesia tidak lepas dari dinamika global.
Bagi investor, hasil ini menunjukkan pentingnya memperhatikan posisi cadangan devisa serta tren suku bunga internasional. Selain itu, strategi investasi obligasi perlu menyesuaikan dengan kondisi global, bukan hanya indikator domestik.
Penelitian tahun 2004–2020 menemukan bahwa:
- Inflasi tidak signifikan terhadap yield obligasi Indonesia.
- Cadangan devisa berpengaruh negatif signifikan.
- SIBOR berpengaruh positif dan negatif bergantian.
- Nilai tukar rupiah tidak berpengaruh signifikan.
Dengan demikian, cadangan devisa dan kondisi global lebih dominan dalam menentukan pergerakan yield obligasi Indonesia.***