Dalam dunia investasi modern, memahami hubungan antara risiko dan keuntungan merupakan hal yang sangat penting. Salah satu teori paling populer yang digunakan untuk menilai hal ini adalah Model Penilaian Aset Kapital (Capital Asset Pricing Model/CAPM).
Model ini membantu investor memperkirakan tingkat pengembalian yang wajar dari suatu aset, seperti saham atau obligasi, dengan mempertimbangkan seberapa besar risiko pasar yang melekat pada aset tersebut.
Melalui pendekatan ini, investor bisa menilai apakah sebuah investasi sepadan dengan risikonya atau tidak. Investor serung menggunakan CAPM untuk menilai saham, obligasi, maupun proyek investasi.
Model ini banyak digunakan karena membantu manajer keuangan menilai kelayakan suatu aset sebelum dibeli. Prinsip dasarnya menegaskan bahwa semakin besar risiko yang diambil, semakin tinggi pula imbal hasil yang diharapkan.
Selain itu, CAPM juga sering digunakan oleh perusahaan dalam menghitung biaya ekuitas (cost of equity). Hasil perhitungan menjadi dasar dalam analisis kelayakan investasi dan pengambilan keputusan strategis.
Apa Itu Model Penilaian Aset Kapital atau CAPM?
Menurut Kemenkeu Learning Center Model Penilaian Aset Kapital atau Capital Asset Pricing Model (CAPM) merupakan teori keuangan yang digunakan untuk menghitung pengembalian yang diharapkan (expected return) dari suatu investasi. CAPM berfungsi sebagai dasar pengambilan keputusan dalam manajemen portofolio dan analisis risiko investasi.
Inti dari CAPM adalah bahwa investor menginginkan imbalan yang sepadan dengan risiko. Artinya, semakin tinggi risiko suatu aset, semakin besar pula tingkat pengembalian yang diharapkan.
CAPM pertama kali diperkenalkan oleh William F. Sharpe pada tahun 1960-an, kemudian dikembangkan oleh John Lintner dan Jan Mossin dan masih terus digunakan sampai hari ini.
Prinsip Dasar Model Penilaian Aset Kapital atau CAPM
CAPM membagi risiko investasi menjadi dua jenis utama, yakni risiko sistematis dan risiko tidak sistematis.
Risiko sistematis muncul dari faktor pasar yang tidak bisa dikendalikan, seperti inflasi, perubahan suku bunga, kebijakan moneter, atau kondisi ekonomi global. Risiko ini tidak dapat dihindari, bahkan ketika investor sudah melakukan diversifikasi portofolio.
Sebaliknya, risiko tidak sistematis berasal dari faktor internal perusahaan, seperti kebijakan manajemen, efisiensi operasional, atau perubahan struktur organisasi. Jenis risiko ini dapat dikurangi dengan melakukan diversifikasi investasi ke berbagai aset.
Melalui CAPM, investor dapat memperkirakan tingkat pengembalian yang wajar dari suatu aset. Nilai beta digunakan untuk mengukur seberapa sensitif suatu aset terhadap perubahan kondisi pasar. Semakin tinggi beta, semakin besar pula risiko dan potensi imbal hasil yang diharapkan.
Rumus CAPM
Berikut rumus yang digunakan dalam menghitung CAPM:
Ra=Rrf+[Ba×(Rm−Rrf)]
Keterangan:
Ra = Tingkat pengembalian yang diharapkan dari aset
Rrf = Tingkat bebas risiko (Risk-Free Rate)
Ba = Nilai Beta (ukuran risiko sistematis terhadap pasar)
Rm = Tingkat pengembalian pasar
(Rm – Rrf) = Premi risiko pasar
Rumus di atas menunjukkan bahwa return yang diharapkan dari suatu aset adalah gabungan antara pengembalian bebas risiko dan tambahan imbal hasil untuk mengompensasi risiko pasar.
Contoh Perhitungan
Misalkan seorang investor ingin mengetahui tingkat pengembalian wajar dari saham PT XYZ. Data yang tersedia:
Risk-Free Rate (Rf) = 5%
Market Return (Rm) = 12%
Beta (β) = 1,3
Hitung premi risiko pasar (langkah 1):
(Rm − Rf) = 12% − 5% = 7%
Kalikan dengan Beta (langkah 2):
β × (Rm − Rf) = 1,3 × 7% = 9,1%
Tambahkan Risk-Free Rate (langkah 3):
Expected Return = 5% + 9,1% = 14,1%
Hasil:
Tingkat pengembalian wajar saham PT XYZ adalah 14,1% per tahun. Dengan risiko yang 30% lebih tinggi dari pasar, investor pantas mengharapkan imbal hasil sebesar itu.
Jika return aktual saham melebihi angka ini, berarti saham undervalued (menarik untuk dibeli). Sebaliknya, jika lebih rendah, maka saham dianggap overvalued.
Kelebihan dan Kekurangan Model Penilaian Aset Kapital atau CAPM

Model Penilaian Aset Kapital atau CAPM memiliki beberapa keunggulan yang membuatnya tetap relevan hingga saat ini. Model ini mudah digunakan karena memiliki rumus sederhana dan dapat diterapkan pada berbagai jenis investasi. Investor dapat dengan cepat menghitung tingkat pengembalian yang diharapkan tanpa perlu data yang terlalu rumit.
Selain itu, CAPM mendorong investor untuk melakukan diversifikasi portofolio. Dengan pendekatan ini, risiko spesifik dari suatu perusahaan dapat diminimalkan karena investasi tersebar di berbagai aset.
Keunggulan lainnya, CAPM mempertimbangkan risiko sistematis atau risiko pasar yang tidak bisa dihindari. Hal ini membuat perhitungan menjadi lebih realistis karena mencerminkan kondisi ekonomi secara keseluruhan.
Model ini juga fleksibel dan dapat diterapkan dalam berbagai situasi bisnis. Meskipun kondisi pasar berubah atau struktur modal perusahaan berbeda, CAPM tetap bisa digunakan sebagai alat analisis yang andal dalam pengambilan keputusan investasi.
Namun, CAPM juga memiliki beberapa kelemahan yang perlu diperhatikan dalam penerapannya. Pertama, model ini berdasarkan asumsi yang terlalu ideal. CAPM menganggap semua investor dapat meminjam dan meminjamkan dana dengan tingkat bunga yang sama, padahal dalam kenyataannya, kondisi pasar tidak selalu mendukung hal tersebut.
Selain itu, model ini sangat bergantung pada data historis. Nilai beta dan return pasar dihitung dari data masa lalu yang belum tentu mencerminkan kondisi ekonomi saat ini. Akibatnya, hasil perhitungan bisa meleset dari realitas terkini.
Selanjutnya, tingkat bunga bebas risiko (risk-free rate) juga tidak selalu stabil. Perubahan suku bunga pemerintah dapat memengaruhi hasil estimasi return dalam CAPM, terutama pada periode ekonomi yang fluktuatif.
Terakhir, penentuan nilai beta sering kali menjadi tantangan tersendiri. Beta setiap saham dapat berubah seiring waktu, sehingga analis harus memperbarui data dan perhitungan secara berkala agar hasilnya tetap relevan.
Contoh Studi Kasus Nyata
Untuk lebih mamahami Model enilaian Aset Kapital atau Capital Asset Pricing Model (CAPM), Anda bisa pelajari dua contoh studi kasus nyata di bawah.
Studi Kasus 1: CAPM pada Saham IDX30
Penelitian dari Jurnal ITB Semarang (2019–2023) menggunakan CAPM untuk menganalisis kelayakan investasi pada saham-saham dalam indeks IDX30.
Langkah analisis meliputi:
- Menghitung return individu setiap saham.
- Menentukan nilai beta.
- Menghitung expected return dengan CAPM.
- Membandingkannya dengan return aktual di pasar.
Hasil penelitian:
Rata-rata saham IDX30 memiliki return positif sekitar 0,658%. Saham dengan return aktual lebih tinggi dari perhitungan CAPM dikategorikan layak investasi (feasible).
Sumber asli: baca di sini.
Studi Kasus 2: CAPM pada Jakarta Islamic Index (JII)
Penelitian lain dari UIR Press Journal (2019–2021) meneliti 19 saham syariah di Jakarta Islamic Index (JII).
Dari hasil perhitungan, terdapat 10 saham efisien yang memiliki return aktual lebih tinggi dari expected return CAPM. Saham-saham ini dinilai lebih menarik karena mampu memberikan kompensasi sepadan terhadap risiko yang diambil. Sumber asli: baca di sini.***