Follow
Follow

Tingkat Suku Bunga Bebas Risiko di Indonesia Adalah Apa? Cara Menghitung Risk Free Rate

Tingkat suku bunga bebas risiko di Indonesia: pengertian, dasar hukum, cara perhitungan, dan penerapan.
Ketahui bagaimana risk free rate dihitung berdasarkan data resmi Indonesia dan mengapa penting dalam analisis investasi serta valuasi. Pixabay/AlexBarcley-consumption-8009082_1280

Memahami tingkat suku bunga bebas risiko di Indonesia merupakan langkah penting sebelum Anda melakukan penilaian investasi apa pun. Dalam praktik keuangan modern, konsep yang dikenal sebagai risk free rate ini berfungsi sebagai fondasi yang memengaruhi cara analis menilai saham, obligasi, hingga proyek jangka panjang. Selain itu, risk free rate juga menjadi titik awal dalam menghitung premi risiko, khususnya saat memakai metode seperti Capital Asset Pricing Model (CAPM) atau pendekatan Discounted Cash Flow (DCF).

Di Indonesia, topik ini semakin relevan karena kondisi ekonomi yang bergerak cepat. Perubahan suku bunga acuan Bank Indonesia dan dinamika imbal hasil Surat Utang Negara (SUN) membuat angka risk free rate tidak bisa dianggap tetap.

Dengan memahami cara menghitungnya, investor dapat menyusun analisis yang lebih akurat serta menghindari kesalahan dalam menilai potensi keuntungan. Di sisi lain, pengetahuan ini juga membantu mencegah estimasi yang terlalu tinggi atau terlalu rendah.

Apa Itu Risk Free Rate?

Secara sederhana, risk free rate adalah tingkat pengembalian dari instrumen yang secara teori tidak memiliki risiko gagal bayar. Meskipun dalam kenyataannya tidak ada aset yang benar-benar bebas risiko, beberapa instrumen pemerintah dianggap memiliki kemungkinan gagal bayar yang sangat kecil. Karena itu, return dari instrumen tersebut dipakai sebagai acuan bebas risiko.

Merangkum dari laman tradingeconomic.com, kemenkeu.go.id, dan ojk.go.id. Di Indonesia, aset yang biasanya digunakan sebagai proxy risk free rate meliputi:

  • Imbal hasil obligasi pemerintah (SUN) jangka panjang seperti tenor 10 tahun.
  • Suku bunga acuan Bank Indonesia seperti BI-7DRRR.
    (Sumber: Bank Indonesia)
  • Bank menganggap indeks suku bunga antar-bank seperti INDONIA sangat likuid.
    (Sumber: OJK Portal)

Selain itu, literatur keuangan internasional juga menempatkan risk free rate sebagai fondasi awal dalam banyak model valuasi. Dalam CAPM misalnya, risk free rate menjadi komponen pertama dalam rumus ekspektasi return suatu aset. Tanpa memahami komponen ini, perhitungan premi risiko hampir pasti akan menyimpang.

Dasar Hukum Risk Free Rate di Indonesia

Untuk memastikan bahwa angka yang digunakan sebagai risk free rate sah secara regulasi, kita perlu memahami dasar hukumnya. Berikut kerangka resmi yang menjadi rujukan:

  1. Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2002 tentang Surat Utang Negara (UU 24/2002)

UU ini menjadi dasar hukum penerbitan SUN. Pasal 2 ayat (1) menjelaskan bentuk penerbitannya, sedangkan Pasal 8 ayat (2) mewajibkan pemerintah membayar bunga dan pokok SUN saat jatuh tempo.
Karena pemerintah wajib mengembalikan pokok dan bunga, investor menganggap instrumen SUN paling mendekati bebas risiko.

  1. Peraturan Bank Indonesia Nomor 20/7/PBI/2018

Peraturan ini mengatur suku bunga pasar uang sebagai benchmark resmi.
Oleh karena itu, kita dapat memakai suku bunga acuan BI sebagai alternatif risk free rate, terutama untuk horizon jangka pendek.

  1. Surat Edaran OJK No. 12/SE OJK/2018

Surat edaran ini menyatakan bahwa bank dapat memakai suku bunga acuan pemerintah sebagai proxy risk free rate.

Dengan adanya regulasi ini, perusahaan dapat menggunakan SUN atau suku bunga acuan BI sebagai risk free rate secara wajar dan dapat mempertanggungjawabkannya.

Mengapa Risk Free Rate Penting untuk Penilaian Investasi?

Mengutip dari beberapa sumber seperti Indodax, berikut alasan mengapa risk free penting untuk penilaian investasi:

  1. Menjadi standar pengembalian minimum

Investor menggunakan risk free rate sebagai acuan untuk menentukan apakah suatu investasi layak. Jika return suatu aset lebih rendah dari risk free rate, maka investor secara rasional lebih memilih instrumen pemerintah yang jauh lebih aman.

  1. Komponen utama model penilaian aset

Dalam CAPM, rumusnya adalah:

E(Ri) = Rf+βi(E(Rm)−Rf)

Rumus ini menunjukkan bahwa risk free rate adalah titik awal menghitung return wajar suatu saham. Selain itu, model DCF juga memakai risk free rate sebagai komponen perhitungan cost of capital.

  1. Mengukur premi risiko

Premi risiko merupakan selisih antara return aset berisiko dan risk free rate. Perusahaan asuransi menambahkan premi yang semakin tinggi untuk risiko yang semakin besar.

  1. Memengaruhi daya tarik aset

Di sisi lain, ketika risk free rate naik, investor menuntut imbal hasil lebih tinggi dari saham atau obligasi korporasi. Jika tidak, investor akan beralih ke aset pemerintah yang lebih aman.

Cara Menghitung Risk Free Rate di Indonesia

Analis perlu melakukan perhitungan risk free rate dengan cermat agar tidak membuat analisis keuangan menjadi bias. Berikut langkah-langkah yang umum analis gunakan:

  1. Pilih instrumen proxy yang paling tepat

Peneliti biasa menggunakan instrumen:

  • Yield SUN 10 tahun, misalnya 6,11% pada November 2025
  • INDONIA untuk tenor sangat pendek
    (Sumber: OJK Portal)
  1. Sesuaikan tenor dengan horizon investasi

Jika proyek memiliki horizon 7 tahun, maka yield SUN 5–10 tahun lebih cocok daripada tenor 30 tahun. Selain itu, penentuan tenor sangat berpengaruh terhadap akurasi valuasi.

  1. Gunakan yield sebagai angka risk free rate

Contoh:

Jika SUN 10 tahun = 6,11%, maka:

Rf≈6,11%

  1. Lakukan penyesuaian jika diperlukan

Selain itu, investor mungkin perlu mengoreksi:

  • Inflasi → menghitung risk free rate riil
  • Mata uang → proyek USD harus memakai risk free rate USD
  • Likuiditas & premi durasi → tenor lebih panjang biasanya memerlukan penyesuaian

Contoh Perhitungan CAPM

    • Rf=6,11%
    • Beta = 1,2
    • Ekspektasi return pasar = 12%

    E(Ri)=6,11%+1,2(12%−6,11%)=13,18%

    Dengan demikian, return wajar saham tersebut sekitar 13,18%.

    Contoh Pengalaman Praktis Investor

    Seorang analis menilai saham perusahaan manufaktur di Indonesia. Dia mengambil:

    • Yield SUN 10 tahun = 6,11%
    • Beta = 1,1
    • Return pasar = 11%

    Hasilnya:
    E(R)≈11,49%

    Selain itu, seorang investor institusi menilai obligasi korporasi. Dengan memakai SUN 5 tahun = 5,4%, ia menemukan bahwa premi risiko 1,6% terlalu kecil. Di sisi lain, ia memilih obligasi lain dengan premi lebih tinggi karena kompensasi risikonya lebih layak.

    Tantangan Menggunakan Risk Free Rate

    Meskipun investor sering menganggap SUN bebas risiko, kenyataannya mereka tetap menghadapi volatilitas harga pasar. Selain itu, faktor inflasi, country risk, dan likuiditas menyebabkan tingkat yield di Indonesia relatif lebih tinggi dibanding negara maju.

    Jika tenor yang dipilih tidak sesuai dengan horizon proyek, analis bisa salah mengarahkan analisis. Misalnya, memakai tenor 30 tahun untuk proyek 5 tahun akan menghasilkan perhitungan yang bias.

    Contoh Studi Kasus

    Skripsi UIR – Risk Free Rate dari BI Rate

    Contoh studi kasus penelitian tingkat suku bunga bebas risiko.

    Judul Skripsi: Analisis Pembentukan Portofolio Optimal dengan Model Indeks Tunggal pada IDX-30

    Penelitian mengenai strategi investasi terus berkembang, khususnya dalam upaya membantu investor menyusun portofolio optimal yang sesuai dengan tujuan keuangan mereka. Investor banyak menggunakan salah satu metode yaitu Model Indeks Tunggal, yang menawarkan pendekatan sederhana dalam memilih saham berdasarkan hubungan antara return saham dan return pasar. Selain itu, metode ini juga membantu investor menilai risiko sistematis secara lebih efisien.

    Eniya Alfinawati Putri melakukan penelitian menggunakan saham-saham yang tergabung dalam indeks IDX-30 selama periode Januari hingga Desember 2020. Dari seluruh komponen IDX-30, terdapat 23 perusahaan yang memenuhi kriteria kelayakan data. Setelah kami menganalisis menggunakan Model Indeks Tunggal, hanya tiga perusahaan yang layak membentuk portofolio optimal.

    Selain itu, penelitian ini menegaskan bahwa pemilihan saham memerlukan analisis kuantitatif yang sistematis. Karena itu, Model Indeks Tunggal membantu mengidentifikasi saham dengan rasio return–risiko terbaik melalui perhitungan excess return to beta. Misalnya, saham dengan nilai ERB tertinggi berpotensi menjadi kandidat utama dalam portofolio.

    Hasil Penelitian

    Hasil penelitian menunjukkan bahwa tiga perusahaan berhasil masuk dalam komposisi portofolio optimal. Pertama, PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) memperoleh porsi dana terbesar, yaitu 70,32%. Kedua, PT United Tractors Tbk (UNTR) menerima alokasi sebesar 25,85%. Ketiga, PT Indah Kiat Pulp & Paper Tbk (INKP) menyumbang proporsi dana sebesar 3,83%. Komposisi ini menggambarkan bahwa ANTM memiliki kinerja rasio return–risiko yang paling unggul pada tahun 2020.

    Selain hasil pemilihan saham, penelitian ini menghitung tingkat keuntungan dan risiko yang akan investor terima. Portofolio optimal dari ketiga saham tersebut memberikan return ekspektasi sebesar 7,92%. Di sisi lain, tingkat risikonya mencapai level 2,57%, yang relatif rendah jika dibandingkan dengan potensi return. Dengan demikian, portofolio yang terbentuk tidak hanya menguntungkan tetapi juga efisien.

    Penelitian ini memiliki beberapa implikasi penting. Pertama, investor dapat memahami bahwa mereka harus menyusun portofolio optimal berdasarkan analisis rasional, bukan sekadar mengikuti tren. Selain itu, pendekatan kuantitatif seperti Model Indeks Tunggal dapat menyederhanakan proses seleksi saham, terutama saat analis menganalisis jumlah emiten yang cukup besar. Misalnya, ketika investor ingin mengevaluasi puluhan saham sekaligus, metode ini dapat mengurangi beban perhitungan covariance yang biasanya rumit.

    Di sisi lain, penelitian ini memberi gambaran bahwa sektor komoditas, seperti ANTM dan UNTR, dapat mendominasi portofolio pada periode tertentu. Faktor pasar yang berubah membuat investor perlu memperbarui analisis dari waktu ke waktu.

    Secara keseluruhan, penelitian ini membuktikan bahwa Model Indeks Tunggal merupakan alat yang efektif untuk menentukan portofolio optimal dari saham-saham unggulan seperti IDX-30. Pendekatan ini membantu investor mencapai keseimbangan antara return dan risiko, sekaligus memberikan dasar kuat untuk pengambilan keputusan investasi yang lebih terukur.

    Tingkat Suku Bunga Bebas Risiko

    Tingkat suku bunga bebas risiko di Indonesia adalah komponen dasar dalam penilaian investasi. Investor biasanya memakai yield SUN atau suku bunga acuan BI sebagai angka risk free rate karena keduanya memiliki dasar hukum yang kuat. Selain itu, analis memakai angka ini dalam CAPM, DCF, dan berbagai metode valuasi lain.

    Di sisi lain, meskipun orang menyebutnya “bebas risiko”, instrumen pemerintah tetap mengandung risiko pasar dan inflasi. Oleh sebab itu, investor harus memilih tenor yang sesuai, memahami kondisi ekonomi Indonesia, serta menyesuaikan risk free rate bila diperlukan.

    Dengan penghitungan yang tepat, analisis investasi akan lebih realistis, akurat, dan selaras dengan kondisi keuangan Indonesia.***

    Comments
    Join the Discussion and Share Your Opinion
    Add a Comment

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

    Hubungi Kami
    Nilai Tepat, Keputusan Kuat
    Punya proyek yang ingin didiskusikan atau sekadar ingin bertanya soal penilaian aset? Isi formulir di bawah, dan saya akan segera menghubungi Anda.
    Hubungi Saya