Follow
Follow

Fair Value Apa Sama dengan Market Value? Ini Penjelasannya dalam Akuntansi

Masih bingung beda fair value dan market value? Perbandingan keduanya secara rinci, termasuk penerapan dalam PSAK.
Temukan makna dan perbedaan fair value dengan market value dalam dunia akuntansi. Penjelasan praktis sesuai ketentuan PSAK terbaru. Unsplash/cht-gsml--6LEDthF1AI

Dalam dunia akuntansi dan keuangan, dua istilah yang sering menimbulkan kebingungan adalah fair value dan market value. Perusahaan kerap menggunakan keduanya bergantian dalam laporan keuangan, padahal memiliki makna dan konteks yang berbeda.

Kesalahan dalam memahaminya bisa menimbulkan dampak besar terhadap nilai aset yang perusahaan laporkan, bahkan memengaruhi keputusan manajemen dan persepsi investor terhadap kinerja perusahaan.

Artikel ini akan mengulas secara menyeluruh apa perbedaan fair value dan market value, bagaimana praktisi akuntansi di Indonesia menggunakan keduanya, serta mengapa penting untuk tidak menyamakan keduanya begitu saja.

Mengapa Perbedaan Fair Value dan Market Value Penting?

Setiap kali sebuah perusahaan mencatat aset di laporan keuangan, manajemen dan auditor harus memutuskan: apakah mereka menggunakan nilai yang berasal dari harga pasar yang sedang berlaku, ataukah dari perhitungan nilai wajar yang memperhitungkan kondisi transaksi tertentu?

Pertanyaan sederhana ini sebenarnya memiliki implikasi besar. Misalnya, ketika perusahaan menilai investasi, properti, atau instrumen keuangan, keputusan apakah menggunakan market value atau fair value bisa memengaruhi transparansi laporan keuangan dan kepatuhan terhadap standar akuntansi yang berlaku.

Selain itu, bagi profesional di bidang audit, valuasi, dan manajemen keuangan, memahami perbedaan dua konsep ini bukan hanya soal teori, melainkan menyangkut keandalan informasi dan akurasi keputusan bisnis.

Definisi: Apa Itu Fair Value?

Menurut Corporate Finance Institute (CFI). Pembeli dan penjual yang sama-sama mengetahui informasi relevan menyepakati fair value sebagai “nilai aktual suatu aset dalam kondisi normal, bukan likuidasi.” Artinya, fair value mencerminkan harga yang wajar jika pihak-pihak yang independen melakukan transaksi secara tertib.

Dalam standar internasional IFRS 13, definisi fair value juga menegaskan bahwa fair value adalah “harga yang akan diterima untuk menjual suatu aset atau dibayar untuk memindahkan kewajiban dalam transaksi antara pelaku pasar pada tanggal pengukuran.”

Di Indonesia, DSAK–IAI telah mengadopsi pengaturan mengenai pengukuran fair value ke dalam Standar Akuntansi Keuangan (SAK) yang mereka keluarkan, sebagaimana publikasi KPMG “SAK Indonesia: An Overview” menyebutkannya.

Dengan demikian, fair value bukan hanya harga jual biasa, melainkan nilai yang mencerminkan transaksi wajar antar pelaku pasar pada waktu tertentu dengan mempertimbangkan berbagai asumsi yang relevan.

Definisi: Apa Itu Market Value?

Berbeda dari fair value, istilah market value atau nilai pasar mengacu pada harga di mana penjual dapat menjual suatu aset di pasar terbuka. Menurut Investopedia, market value adalah “harga jual aset di pasar terbuka berdasarkan apa yang bersedia pembeli bayar dan penjual terima.”

Definisi serupa juga digunakan oleh Internal Revenue Service (IRS) di Amerika Serikat. Yakni penjual dan pembeli yang sama-sama mengetahui kondisi pasar dan tidak berada di bawah tekanan membentuk harga.

Dengan kata lain, market value menggambarkan harga pasar yang benar-benar terjadi saat ini harga yang dapat kita observasi langsung, bukan estimasi.

Mengapa Keduanya Sering Disamakan?

Dalam kondisi ideal, ketika pasar aktif memperdagangkan sebuah aset dengan data harga yang transparan, maka fair value dan market value bisa sangat mirip, bahkan identik.

Sebagai contoh, jika perusahaan memiliki saham publik yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia, maka investor dapat mengamati harga pasar harian yang mencerminkan fair value-nya pada tanggal pengukuran. Literatur Wikipedia juga menyebut bahwa “jika suatu aset diperdagangkan di pasar aktif, maka nilai wajar pada tanggal pengukuran menyamai nilai pasarnya.”

Namun di sisi lain, kondisi pasar tidak selalu sempurna. Ada kalanya aset tidak memiliki pasar aktif, atau transaksi terjadi dalam kondisi khusus. Dalam situasi seperti ini, fair value bisa berbeda jauh dari market value.

Perbedaan Utama Fair Value dan Market Value

Berikut beberapa perbedaan mendasar antara keduanya:

  1. Konteks Penggunaan
  • Perusahaan menggunakan fair value dalam laporan keuangan dan pelaporan akuntansi sesuai IFRS dan SAK.
  • Pelaku pasar, pemerintah, dan penilai lebih sering menggunakan market value dalam transaksi pasar, pajak, dan penilaian bisnis atau properti.
  1. Ketersediaan Data Pasar
  • Pasar aktif dan harga yang dapat diobservasi diperlukan oleh market value.
  • Perusahaan dapat menentukan fair value walaupun pasar tidak aktif, menggunakan model valuasi seperti income approach atau cost approach.
  1. Asumsi Transaksi
  • Fair value mempertimbangkan kondisi “transaksi tertib” antar pelaku pasar wajar.
  • Market value lebih fokus pada harga aktual di pasar terbuka, tanpa mempertimbangkan apakah transaksi itu wajar atau tidak.
  1. Diskon Kontrol dan Likuiditas
  • Dalam penilaian market value, penilai sering menerapkan diskon karena kurangnya kontrol atau likuiditas, terutama pada saham minoritas.
  • Fair value dalam akuntansi biasanya tidak memasukkan diskon tersebut, karena fokus pada nilai wajar antar pelaku pasar.

Penerapan dalam Akuntansi Indonesia

Dalam praktik pelaporan keuangan di Indonesia, SAK mengatur fair value sebagai standar utama, selaras dengan IFRS 13.

Menurut panduan PwC “A Practical Guide to the New and Revised Indonesian Financial Standards”, entitas harus menentukan nilai wajar dengan mempertimbangkan data pasar yang dapat mereka observasi, atau jika tidak tersedia, menggunakan input tidak langsung (unobservable inputs) yang relevan.

Sebaliknya, SAK tidak menyebutkan istilah market value secara eksplisit, tetapi konsepnya tetap digunakan ketika harga pasar aktif tersedia. Misalnya pada aset keuangan yang diperdagangkan di bursa, kita bisa menggunakan nilai pasar sebagai dasar pengukuran fair value.

Contoh Kasus dalam Praktik

  • Kasus 1: Aset dengan Pasar Aktif

Sebuah perusahaan memperdagangkan saham publiknya di BEI. Karena ada banyak pembeli dan penjual, kita dapat mengamati harga saham setiap hari. Dalam kondisi ini, nilai pasar sama dengan nilai wajarnya (market value ≈ fair value).

  • Kasus 2: Aset Tidak Likuid

Perusahaan lain tidak memperdagangkan mesin produksi khusus yang mereka miliki di pasar umum. Kami tidak bisa menggunakan harga pembanding secara langsung. Hasilnya, hal ini bisa menghasilkan nilai wajar yang berbeda jauh dari harga pasar terbatas yang tersedia.

Studi Kasus Nyata dan Penelitian di Indonesia

Contoh studi kasus penelitian fair value.

Untuk memperjelas perbedaan konsep ini, berikut beberapa contoh penelitian relevan di Indonesia:

  1. Indri Hardiani (2014) – Universitas Diponegoro
    Dalam skripsinya “Fair Value Measurement: Masalah Baru atau Solusi pada Pelaporan Keuangan”, Hardiani menemukan bahwa auditor menghadapi tantangan besar ketika menilai aset dengan fair value, terutama ketika pasar tidak aktif. Ini menunjukkan bahwa fair value memerlukan analisis mendalam, bukan sekadar harga pasar.
  2. Yudi Ardana – Universitas Tanjungpura (Jurnal KIAFE)
    Penelitiannya berjudul “Dampak Penerapan Fair Value Accounting terhadap Indikasi Manipulasi Laporan Keuangan” menemukan bahwa penggunaan fair value level 2 dan 3 (yang tidak dapat diobservasi secara langsung) berpotensi membuka celah manipulasi laporan keuangan. Hal ini menegaskan pentingnya kehati-hatian auditor dan manajemen dalam menentukan nilai wajar.
  3. Amirah Lulu Mawaddah (2021) – Politeknik Negeri Jakarta
    Dalam penelitiannya, “Analisis Nilai Wajar Harga Saham dengan Pendekatan DCF dan Relative Value”, Mawaddah menunjukkan bahwa nilai wajar saham bisa berbeda dari harga pasar karena mempertimbangkan proyeksi arus kas dan risiko bisnis. Ini menjadi contoh konkret bahwa fair value tidak selalu identik dengan market value.

Implikasi Praktis untuk Dunia Akuntansi dan Penilaian

Profesional jasa penilaian atau perusahaan yang melaporkan asetnya perlu menentukan standar nilai yang digunakan apakah fair value, market value, atau fair market value.

Selain itu, penilai wajib menjelaskan:

  • asumsi yang digunakan,
  • apakah ada diskon kontrol atau likuiditas,
  • serta teknik valuasi (data pasar, arus kas, atau pembanding).

Jika laporan menyebut fair value, artinya nilai tersebut sudah melalui estimasi dan analisis; sementara jika menggunakan market value, nilai tersebut lebih mencerminkan kondisi pasar saat itu.

Fair Value dan Market Value Tidak Selalu Sama

Secara singkat, fair value dan market value tidak selalu sama.
Dalam kondisi pasar aktif dan transparan, keduanya bisa mendekati atau bahkan identik. Namun, dalam situasi pasar tidak aktif, aset bersifat khusus, maka fair value bisa jauh berbeda dari market value.

Bagi perusahaan di Indonesia, penerapan fair value mengikuti ketentuan dalam SAK yang telah harmonis dengan IFRS. Oleh karena itu, perusahaan harus menyertai setiap pengukuran nilai dengan pengungkapan yang jelas agar laporan keuangan tetap transparan dan andal.

Ketika Anda membaca istilah “nilai wajar” di laporan keuangan, jangan langsung menganggapnya sama dengan “nilai pasar”. Selalu perhatikan konteksnya, karena di balik angka yang tampak sederhana, terdapat proses penilaian dan analisis yang kompleks.***

Comments
Join the Discussion and Share Your Opinion
Add a Comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Hubungi Kami
Nilai Tepat, Keputusan Kuat
Punya proyek yang ingin didiskusikan atau sekadar ingin bertanya soal penilaian aset? Isi formulir di bawah, dan saya akan segera menghubungi Anda.
Hubungi Saya