Follow
Follow

Indikasi Nilai Properti Dapat dari Mana? Simak Cara Menilai Properti Secara Tepat

Cari tahu darimana indikasi nilai properti, apa saja sumber dan faktor yang mempengaruhi serta cara KJPP menilai properti secara tepat. (Pixabay/nattanan23)
Cari tahu darimana indikasi nilai properti, apa saja sumber dan faktor yang mempengaruhi serta cara KJPP menilai properti secara tepat. (Pixabay/nattanan23)

Dari mana sebenarnya indikasi nilai properti didapat dan bagaimana cara menilai properti secara tepat menjadi pertanyaan yang menarik untuk pemilik aset.

Sebagaimana diketahui, dalam dunia investasi dan bisnis, mengetahui nilai properti secara akurat menjadi hal yang sangat penting. Baik untuk tujuan jual-beli, pengajuan kredit, laporan keuangan, hingga perpajakan, setiap keputusan besar yang melibatkan aset properti membutuhkan dasar penilaian properti yang sahih.

Berikut artikel ini akan membahas secara mendalam tentang sumber indikasi nilai properti, metode penilaian yang digunakan, serta bagaimana Kantor Jasa Penilai Publik (KJPP) berperan penting dalam menentukan nilai yang objektif dan dapat dipertanggungjawabkan.

Melansir djkn.kemenkeu.go.id, nilai properti pada dasarnya adalah opini yang dihasilkan oleh penilai properti yang profesional, setelah melalui proses analisis yang panjang dan mendalam.

Dalam prosesnya, nilai properti banyak mengandung objektivitas yang didasari riset dan kajian, tetapi juga tidak mungkin terhindar sepenuhnya dari subjektivitas yang dimiliki oleh penilainya.

Pentingnya Mengetahui Nilai Properti

Mengetahui nilai properti membantu menentukan harga jual dan beli yang wajar. Dengan penilaian yang objektif, penjual tidak perlu takut menjual terlalu murah, dan pembeli pun tidak akan membayar lebih dari harga sebenarnya.

Selain itu, penilaian properti juga menjadi dasar bagi pengajuan pinjaman di bank. Lembaga keuangan biasanya meminta laporan penilaian resmi untuk menentukan besarnya plafon kredit yang dapat diberikan. Semakin tinggi nilai properti, semakin besar pula potensi pinjaman yang bisa diajukan.

Sementara bagi investor, mengetahui nilai pasar properti berarti bisa menghitung potensi keuntungan dan risiko dengan lebih akurat. Nilai properti menjadi acuan dalam merencanakan investasi jangka panjang dan mengelola portofolio aset.

Tak hanya itu, nilai properti juga berpengaruh dalam bidang perpajakan dan akuntansi. Angka yang tercatat menentukan besaran pajak yang harus dibayar serta memengaruhi laporan keuangan perusahaan.

Dalam urusan hukum, penilaian properti berperan penting saat terjadi pembagian warisan atau sengketa kepemilikan. Nilai yang jelas membantu menciptakan keadilan dan kejelasan hukum bagi semua pihak.

Sumber-sumber Indikasi Nilai Properti

Nilai properti tidak muncul begitu saja. Ia berasal dari indikasi yang diperoleh melalui berbagai sumber data dan analisis lapangan. Berikut beberapa sumber utama yang menjadi dasar penentuan nilai properti dirangkum dari klc2.kemenkeu.go.id, ojk.go.id, hingga jurnal.pknstan.ac.id:

1. Data Transaksi Pasar (Market Data)

Data transaksi menjadi sumber utama untuk menentukan indikasi nilai pasar suatu properti. Informasi ini mencakup harga jual dan beli properti sejenis di lokasi yang sama.

Selain itu, data penawaran atau listing price di pasar juga menjadi acuan penting. Catatan dari notaris, agen properti, hingga portal properti online turut melengkapi gambaran nilai pasar yang objektif dan aktual.

Dari sini, penilai akan membandingkan properti yang sedang dinilai dengan properti sebanding (comparable property). Prinsipnya nilai pasar mencerminkan harga yang akan disepakati oleh pembeli dan penjual di pasar bebas.

2. Biaya Pembangunan dan Penggantian (Cost Approach)

Sumber kedua berasal dari biaya yang diperlukan untuk membangun atau mengganti properti tersebut dengan yang baru, dikurangi dengan depresiasi fisik dan fungsional. Indikasi nilai dari pendekatan ini cocok untuk bangunan baru atau properti khusus seperti pabrik, fasilitas pendidikan, rumah sakit, dan sebagainya.

Rumus sederhananya: Nilai Properti = Biaya Pembangunan Baru – Depresiasi + Nilai Tanah

3. Pendapatan yang Dihasilkan (Income Approach)

Untuk properti yang menghasilkan pendapatan (seperti hotel, ruko, atau apartemen sewa), nilai dapat diindikasikan dari arus kas (cash flow) yang dihasilkan setiap tahun.
Penilai akan menghitung nilai sekarang (present value) dari pendapatan bersih yang diharapkan di masa depan.

Contoh sederhana: Jika sebuah apartemen menghasilkan sewa Rp120 juta per tahun dengan tingkat kapitalisasi 10%, maka indikasi nilai properti adalah Rp120 juta / 10% = Rp1,2 miliar.

4. Faktor Eksternal dan Lingkungan

Faktor non-kuantitatif yang turut membentuk nilai properti. Misalnya lokasi dan aksesbilitas, kondisi lingkungan sekitar, infrastruktur dan fasilitas publik, serta kebijakan tata ruang atau zonasi. Perubahan rencana tata kota, misalnya pembangunan tol baru atau bandara, dapat menaikkan nilai properti secara signifikan.

5. Data Penunjang Lain

Selain data transaksi, penilai juga memperhatikan dokumen legalitas seperti sertifikat tanah, IMB, dan PBB. Kemudian nilai properti juga bisa dipengaruhi oleh kondisi fisik bangunan, umur ekonomis properti hingga data inflasi dan tren pasar. Semua informasi ini kemudian digabungkan untuk menghasilkan indikasi nilai properti yang komprehensif dan realistis.

Cara KJPP Menentukan Nilai Properti

Kantor Jasa Penilai Publik (KJPP) menggunakan standar penilaian yang diakui secara nasional dan internasional dalam menilai properti atau. Berikut ini tiga pendekatan utama dalam penilaian properti yang umum digunakan:

1. Pendekatan Perbandingan Data Pasar (Market Approach)

Metode perbandingan pasar digunakan dengan cara membandingkan properti yang dinilai dengan properti serupa yang sudah terjual di pasar. Langkah pertama adalah mengumpulkan data transaksi dari properti pembanding. Setelah itu, dilakukan penyesuaian terhadap perbedaan seperti lokasi, ukuran, kondisi bangunan, dan fasilitas yang dimiliki.

Dari hasil penyesuaian tersebut, penilai menentukan nilai indikasi rata-rata yang dianggap paling mendekati nilai pasar sebenarnya. Metode ini paling sering digunakan untuk menilai properti residensial atau tanah kosong karena memberikan hasil yang cepat dan mudah dipahami.

2. Pendekatan Biaya (Cost Approach)

Digunakan untuk properti yang jarang diperjualbelikan di pasar, seperti sekolah, rumah ibadah, atau fasilitas publik. Penilai menghitung nilai tanah terlebih dahulu, kemudian menambahkan nilai bangunan setelah memperhitungkan penyusutan.

3. Pendekatan Pendapatan (Income Approach)

Digunakan untuk properti yang menghasilkan pendapatan tetap. Penilai memperkirakan potensi pendapatan bersih dari properti tersebut, kemudian mendiskontokannya menggunakan tingkat kapitalisasi (cap rate). Metode ini banyak digunakan untuk penilaian apartemen sewa, pusat perbelanjaan, hotel, atau gedung perkantoran.

Peran KJPP dalam Menentukan Nilai Properti

Menurut pppk.kemenkeu.go.id, Kantor Jasa Penilai Publik (KJPP) adalah badan usaha yang telah mendapat izin usaha dari Menteri Keuangan sebagai wadah bagi Penilai Publik dalam memberikan jasanya.

Setiap penilai publik di KJPP bekerja dengan menjunjung tinggi prinsip independensi dan objektivitas, memastikan setiap hasil penilaian bebas dari kepentingan pribadi. Penilai menyajikan hasil secara transparan agar mudah dipahami dan dapat dipercaya sesuai Standar Penilaian Indonesia (SPI).

KJPP menyusun laporan hasil penilaian yang memiliki kekuatan hukum dan diakui secara nasional. Dengan demikian, dokumen ini dapat digunakan untuk berbagai keperluan, termasuk pengajuan kredit ke bank, pelaporan keuangan dan audit, pembagian aset atau penyelesaian sengketa hukum, serta transaksi jual-beli dan investasi properti.

Langkah-Langkah Penilaian Properti oleh KJPP

Proses penilaian properti oleh KJPP berjalan sistematis dan terstruktur. Secara umum, tahapannya meliputi:

  • Pertama, permintaan penilaian. Klien mengajukan permintaan dengan tujuan jelas, seperti jual-beli, pembiayaan, atau laporan keuangan.
  • Kedua, pengumpulan data. Penilai mengumpulkan dokumen legal, data pasar, dan informasi teknis terkait properti.
  • Ketiga, inspeksi lapangan. Penilai melakukan pengecekan langsung terhadap kondisi fisik dan lingkungan properti.
  • Keempat, analisis dan perhitungan. Penilai menggunakan metode yang sesuai dengan jenis dan tujuan penilaian.
  • Terakhir, penyusunan Laporan Hasil Penilaian (LHP). Penilai menyajikan hasil akhir dalam laporan resmi, lengkap dengan dasar penilaian, analisis, dan nilai akhir properti.

Contoh Studi Kasus

Berikut beberapa contoh studi kasus yang menunjukkan bagaimana KJPP menilai properti dan memberikan wawasan tentang praktik serta pendekatan yang mereka gunakan dalam menentukan nilai properti:

1. Rumah Tinggal di Perumahan Citraland City Samarinda

KJPP Aksa, Nelson & Rekan menilai properti berupa rumah tinggal di Perumahan Citraland City Samarinda. Mereka menggunakan metode pendekatan data pasar dan biaya dengan membandingkan harga rumah sejenis yang telah terjual, sedangkan pendekatan biaya menghitung biaya reproduksi baru dikurangi penyusutan. Hasil penilaian menunjukkan bahwa rumah tinggal di kawasan tersebut memiliki nilai pasar yang kompetitif, menjadikannya investasi yang menarik bagi pemiliknya.

Sumber: Baca di sini.

2. Tanah Kosong di Labuan Bajo, Nusa Tenggara Timur

Studi ini menilai tanah kosong di Kelurahan Labuan Bajo, Kecamatan Komodo, Kabupaten Manggarai, menggunakan pendekatan pasar. Hasilnya menunjukkan nilai pasar tanah tersebut sebesar Rp3.500.000 per meter persegi. Penilaian ini penting untuk kepentingan jual beli dan investasi di kawasan pariwisata yang berkembang pesat.

Sumber: Baca di sini.

3. Properti Komersial Villatel dan Condotel X di Kabupaten Bogor

KJPP menilai properti komersial seperti villatel dan condotel di Kabupaten Bogor untuk memahami potensi nilai investasi dan daya saing pasar. Analisis ini membantu investor dan pengembang dalam pengambilan keputusan terkait pengembangan dan pemasaran properti di kawasan tersebut.

Sumber: Baca di sini.

4. Aset Desa untuk Inventarisasi Aset Desa

KJPP menilai aset desa di Desa Carangrejo dan Desa Watudakon, Kecamatan Kesamben, Kabupaten Jombang. Mereka menggunakan metode pendekatan pasar dan biaya.

Hasil penilaian menunjukkan bahwa nilai aset desa bervariasi tergantung pada jenis penggunaan lahan dan aksesibilitas, dengan nilai rata-rata mencapai Rp1.170.384 per meter persegi.

Sumber: Baca di sini.

Studi-studi kasus ini menggambarkan bagaimana KJPP menerapkan berbagai metode penilaian untuk menentukan nilai pasar properti, baik untuk kepentingan pribadi, investasi, maupun pengelolaan aset publik.***

Comments
Join the Discussion and Share Your Opinion
Add a Comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Hubungi Kami
Nilai Tepat, Keputusan Kuat
Punya proyek yang ingin didiskusikan atau sekadar ingin bertanya soal penilaian aset? Isi formulir di bawah, dan saya akan segera menghubungi Anda.
Hubungi Saya