Follow
Follow

Berapa Market Risk Premium Indonesia 2025? Lengkap Equity Risk Premium Indonesia Damodaran

Market risk premium Indonesia 2025, metode Damodaran, dan pengaruhnya terhadap valuasi perusahaan serta keputusan investasi di pasar ekuitas Indonesia.
Temukan berapa market risk premium Indonesia 2025 menurut data resmi Damodaran. Perhitungan equity risk premium Indonesia, faktor penentu, hingga implikasinya bagi valuasi dan investasi. Unsplash/coinstash-australia-51UkMs38ixg

Dalam dunia keuangan modern yang semakin terhubung, memahami market risk premium Indonesia 2025 menjadi hal penting bagi investor maupun analis valuasi. Setiap keputusan investasi tidak hanya bergantung pada potensi imbal hasil, tetapi juga pada seberapa besar kompensasi yang dibutuhkan untuk menanggung risiko pasar Indonesia.

Di tengah dinamika ekonomi global, seperti fluktuasi suku bunga, tekanan inflasi, hingga ketegangan geopolitik, pasar modal Indonesia menghadapi tantangan baru. Dalam kondisi seperti ini, investor memerlukan panduan untuk menjawab satu pertanyaan penting: apakah return saham di Indonesia mampu menutupi risiko yang diambil?

Oleh karena itu, konsep equity risk premium Indonesia Damodaran menjadi alat analisis yang krusial. Angka ini tidak sekadar statistik, melainkan dasar bagi penentuan valuasi perusahaan, perhitungan cost of equity, hingga keputusan investasi jangka panjang.

Memahami Konsep Market Risk Premium dan Equity Risk Premium

Sebelum membahas angka untuk 2025, penting untuk memahami maknanya terlebih dahulu.

Market Risk Premium (MRP) adalah selisih antara tingkat imbal hasil pasar saham dan tingkat bebas risiko (risk-free rate), biasanya diwakili oleh imbal hasil obligasi pemerintah. Dengan kata lain, MRP adalah kompensasi tambahan yang diminta investor agar bersedia berinvestasi di pasar saham.

Sementara itu, Equity Risk Premium (ERP) di tingkat negara adalah premi tambahan yang mencerminkan risiko spesifik suatu negara dibandingkan pasar maju. Menurut Aswath Damodaran, pakar valuasi dari Stern School of Business, New York University (pages.stern.nyu.edu), ERP untuk negara berkembang seperti Indonesia = ERP pasar maju + country risk premium (CRP) + faktor tambahan dari volatilitas pasar lokal.

Dengan demikian, market risk premium Indonesia 2025 mencerminkan berapa besar tambahan imbal hasil yang diharapkan investor untuk menanggung risiko berinvestasi di pasar ekuitas Indonesia dibandingkan pasar bebas risiko global.

Data dan Estimasi Terbaru: Berapa Angkanya untuk 2025?

Berdasarkan dataset terbaru dari Aswath Damodaran dikutip dari laman stern.nyu.edu, default spread Indonesia tercatat sekitar 1,89%, dan equity risk premium (ERP) sebesar 6,87% (Stern School of Business, NYU).

Selain itu, situs Market-Risk-Premia.com mencatat bahwa per 31 Mei 2025, implied market risk premium untuk Indonesia berada pada kisaran 7,8%–9%. Sementara itu, data dari GuruFocus (2023) menunjukkan total equity risk premium Indonesia mencapai sekitar 9,23%, dengan rentang historis antara 7,06%–9,28%.

Dari berbagai sumber tersebut, wajar bila untuk tahun 2025 para analis menggunakan kisaran 8%–10% sebagai estimasi realistis. Angka ini sejalan dengan tren historis dan kondisi makroekonomi terkini.

Misalnya, jika tingkat bebas risiko (risk-free rate) di Indonesia sekitar 6% (mengacu pada yield obligasi pemerintah atau suku bunga BI), maka cost of equity dapat dihitung sebagai:

Cost of Equity = 6% + 9% = 15%

Angka tersebut menggambarkan tingkat pengembalian yang diharapkan investor untuk menanggung risiko investasi di pasar saham Indonesia.

Mengapa Angka Ini Masuk Akal untuk 2025

Ada beberapa alasan mengapa kisaran 8–10% dianggap wajar:

  1. Kondisi global masih berisiko tinggi. Suku bunga global yang tinggi, pelemahan mata uang di negara berkembang, serta ketidakpastian geopolitik membuat investor menuntut premi risiko lebih besar.
  2. Faktor domestik juga berpengaruh. Inflasi yang belum sepenuhnya stabil, volatilitas rupiah, serta risiko politik menjelang pemilihan umum dapat memperlebar spread risiko.
  3. Kehati-hatian dalam penilaian. Dalam praktik penilaian perusahaan, menggunakan angka konservatif membantu menjaga hasil valuasi tetap wajar dan tidak terlalu optimistis.

Dengan kata lain, penilai menggunakan equity risk premium Indonesia versi Damodaran sebagai dasar ilmiah, lalu menyesuaikannya dengan kondisi nyata di lapangan.

Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Risk Premium Indonesia

Menurut laman pages.stern.nyu.edu dan ssbfnet.com. Beberapa variabel utama yang menentukan tinggi rendahnya market risk premium Indonesia 2025 antara lain:

  • Tingkat suku bunga dan inflasi: Semakin tinggi suku bunga dan inflasi, semakin besar risiko bagi investor.
  • Country risk premium (CRP): Menurut Damodaran, CRP mencerminkan kemungkinan gagal bayar, ketidakstabilan politik, dan risiko nilai tukar.
  • Volatilitas pasar saham. Peneliti di ResearchGate menyebut bahwa semakin tinggi volatilitas pasar di BEI, semakin besar premi risiko yang diminta investor.
  • Likuiditas pasar ekuitas: Pasar yang kurang likuid cenderung memiliki premi risiko lebih tinggi karena sulit keluar-masuk posisi besar tanpa mempengaruhi harga.
  • Kondisi global: Arus modal keluar dari pasar negara berkembang akibat kebijakan suku bunga tinggi di AS dapat meningkatkan ERP Indonesia.

Metodologi Damodaran dalam Menghitung Equity Risk Premium

Analis di seluruh dunia sering menggunakan pendekatan Aswath Damodaran sebagai acuan karena sifatnya yang sistematis dan logis. Langkah-langkahnya adalah:

  1. Menentukan mature market premium (misalnya dari pasar AS).
  2. Penilai menghitung dan menambahkan country risk premium (CRP) dengan menggunakan acuan sovereign bond spread atau default spread.
  3. Menyesuaikan dengan volatilitas pasar saham lokal terhadap obligasi pemerintah.

Sebagai contoh, jika ERP pasar maju 5,5% dan default spread Indonesia 1,89%, maka ERP Indonesia = 5,5% + 1,89% = 7,39%. Namun, setelah menambahkan volatilitas pasar lokal, nilainya dapat naik ke kisaran 8–9%.

Dataset resmi di situs Stern School of Business – Damodaran Online menjelaskan metode ini secara rinci.

Studi Kasus dan Penelitian Empiris di Indonesia

Contoh studi kasus penelitian market risk premium Indonesia.

Beberapa penelitian akademik memberikan gambaran nyata tentang bagaimana equity risk premium Indonesia berperilaku dalam jangka panjang:

  1. Morawakage & Kuruppuarachchi (2018) dalam “Equity Risk Premium Puzzle: Evidence from Indonesia and Sri Lanka” menemukan bahwa volatilitas return tidak selalu signifikan terhadap ERP di Indonesia.
    (Sumber: ResearchGate)
  2. Zaenal Arifin (UII, 2022) dalam “Portrait of Equity Risk Premium in Indonesia Capital Market 1990–2022” menemukan bahwa ERP tahunan di Indonesia sekitar 2,24%–5,54% tergantung periode dan frekuensi data.
    (Sumber: SSBFNet Journal)
  3. Rahmadani & Manurung (2024) meneliti periode 2010–2023 dan menemukan bahwa selama pandemi COVID-19, risk premium berpengaruh negatif terhadap return saham Indonesia.
    (Sumber: Semantic Scholar)

Temuan-temuan tersebut menegaskan bahwa ERP bersifat dinamis dan sangat tergantung pada konteks ekonomi.

Implikasi Praktis bagi Investor dan Penilai

Bagi investor, angka market risk premium Indonesia 2025 di kisaran 8–10% menunjukkan bahwa pasar menilai investasi di Indonesia memiliki risiko lebih tinggi daripada pasar maju. Artinya, potensi imbal hasil juga harus lebih besar untuk menutupi risiko tersebut.

Bagi penilai atau analis valuasi, ERP berfungsi sebagai dasar dalam menghitung cost of equity. Menggunakan angka terlalu rendah dapat menghasilkan valuasi yang terlalu optimis. Sebaliknya, angka yang terlalu tinggi bisa membuat valuasi undervalued.

Di sisi lain, bagi pengambil kebijakan dan korporasi, pemahaman ERP membantu menilai kewajaran hasil valuasi dan memperkuat transparansi laporan keuangan.

Catatan Penting dalam Menggunakan ERP

Meskipun banyak penilai menggunakan angka dari Damodaran, mereka perlu mengingat bahwa ERP bukanlah nilai yang pasti. Faktor ekonomi, politik, dan keuangan dapat berubah sewaktu-waktu. Penilai perlu memastikan tidak terjadi double counting; jika country risk sudah tercakup dalam ERP, jangan tambahkan lagi faktor diskonto terpisah.

Penilai sebaiknya selalu mencantumkan sumber data (seperti Damodaran, Market-Risk-Premia, atau GuruFocus), melakukan analisis sensitivitas, dan menyesuaikan ERP secara mandiri.

Untuk menjawab pertanyaan “berapa market risk premium Indonesia 2025?”. Berdasarkan berbagai sumber resmi seperti Damodaran (NYU Stern), Market-Risk-Premia.com, dan GuruFocus, estimasi yang paling masuk akal kisaran 8%–10%.

Angka ini mencerminkan kompensasi wajar bagi risiko investasi ekuitas di Indonesia, sejalan dengan kondisi global dan domestik yang masih bergejolak.

Sebagai ilustrasi, jika risk-free rate = 6% dan ERP = 9%, maka cost of equity = 15%. Analis atau penilai dapat menyesuaikan angka ini berdasarkan sektor, profil risiko perusahaan, dan kondisi makroekonomi yang berlaku.

Dengan demikian, memahami equity risk premium Indonesia Damodaran bukan sekadar soal angka dalam laporan keuangan. Melainkan fondasi strategis bagi pengambilan keputusan investasi yang lebih cerdas, terukur, dan berbasis data.***

Comments
Join the Discussion and Share Your Opinion
Add a Comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Hubungi Kami
Nilai Tepat, Keputusan Kuat
Punya proyek yang ingin didiskusikan atau sekadar ingin bertanya soal penilaian aset? Isi formulir di bawah, dan saya akan segera menghubungi Anda.
Hubungi Saya