Dalam dunia penilaian aset dan bisnis, istilah nilai likuidasi menjadi sangat penting terutama ketika kondisi keuangan sedang tertekan atau aset harus dijual dengan cepat. Banyak orang sering mengira nilai likuidasi sama dengan nilai pasar, padahal keduanya memiliki perbedaan mendasar yang bisa berdampak besar pada keputusan keuangan.
Menurut Corporate Finance Institute, penilai memperkirakan nilai likuidasi untuk mengetahui perkiraan uang yang bisa diterima saat aset dijual cepat, biasanya dalam kondisi terbatas. Nilai pasar, di sisi lain, menunjukkan jumlah yang diperoleh dari transaksi normal antara pembeli dan penjual yang memiliki informasi lengkap dan tidak terburu-buru. (pdb-lawfirm.id; libertycad.com)
Pemahaman yang keliru tentang dua konsep ini dapat menimbulkan kesalahan besar, terutama bagi investor, kreditur, atau perusahaan yang sedang menghitung nilai jaminan, melakukan lelang, hingga restrukturisasi aset. Menurut Wikipedia, perbedaan kondisi transaksi sangat memengaruhi hasil akhir penilaian. Karena itu, memahami indikasi nilai likuidasi bukan hanya penting, tetapi juga strategis untuk mengambil keputusan keuangan yang bijak.
Pengertian Indikasi Nilai Likuidasi
Secara sederhana, penilai menggunakan indikasi nilai likuidasi untuk memperkirakan jumlah uang yang dapat diperoleh dari penjualan suatu aset dalam waktu singkat atau di bawah kondisi pemasaran terbatas. Contohnya, perusahaan yang menjual properti selama likuidasi bisnis umumnya memperoleh dana lebih rendah dibandingkan harga transaksi di pasar normal.
Mengacu pada Standar Penilaian Indonesia (SPI) 2018 dikutip dari penilaian.id, nilai likuidasi didefinisikan sebagai “sejumlah uang yang mungkin direalisasikan saat sebuah atau sekelompok aset dijual secara piecemeal basis atau dalam waktu relatif pendek untuk memenuhi batas pemasaran nilai pasar.” (Sumber: Penilaian.id).
Selain itu, menurut laman resmi djkn.kemenkeu.go.id. Peraturan Menteri Keuangan Nomor 99 Tahun 2024 menegaskan bahwa penilai memperoleh estimasi uang dari penjualan aset dalam jangka waktu terbatas melalui perhitungan nilai likuidasi. Artinya, indikasi nilai likuidasi muncul saat kondisi penjualan tidak ideal seperti pelelangan, penjualan cepat, atau ketika pasar sedang lesu. (DJKN Kemenkeu)
Kapan Nilai Likuidasi Diperlukan?
Dalam praktik penilaian profesional, sumber dari kemenkeu.go.id dan penilaian.id menunjukkan bahwa penilai sering menggunakan nilai likuidasi untuk menilai aset pada situasi tertentu, misalnya:
- Penjualan cepat karena kredit macet. Sebuah bank yang mengeksekusi jaminan kredit biasanya meminta penilai untuk menentukan nilai likuidasi agar bisa memperkirakan hasil lelang minimum.
- Penilai memperkirakan dana yang mungkin diperoleh dari penjualan semua aset perusahaan yang sedang dilikuidasi.
- Penilaian agunan kendaraan atau mesin. Jika pasar sedang lemah, penilai mempertimbangkan potensi diskon akibat waktu pemasaran yang singkat.
Dari pengalaman para penilai independen di lapangan, nilai likuidasi biasanya berada di kisaran 70–80% dari nilai pasar dalam kondisi stabil. Namun, pada aset yang rusak atau pasar yang lesu, nilainya bisa turun hingga 50–60%. Fakta ini menunjukkan bahwa kondisi ekonomi dan tingkat urgensi penjualan selalu memengaruhi nilai likuidasi.
Apa Itu Nilai Pasar?
Nilai pasar, berbeda dengan nilai likuidasi, mencerminkan estimasi harga yang mungkin tercapai dalam transaksi wajar antara pembeli dan penjual yang memiliki pengetahuan memadai tentang kondisi pasar.
Laman pdb-lawfirm.id menjelaskan bahwa menurut SPI 2018, nilai pasar mencerminkan kondisi ideal pasar aktif, kedua pihak bertransaksi secara sukarela, dan tidak ada tekanan finansial. (Penilaian.id; pdb-lawfirm.id). Dalam kondisi seperti ini, penjual dapat memperoleh harga optimal karena memiliki waktu yang cukup untuk mencari pembeli terbaik.
Dengan demikian, nilai pasar adalah representasi dari potensi harga “normal”, sedangkan nilai likuidasi menggambarkan harga “terpaksa”. Pemahaman dua istilah ini sangat penting sebelum menggunakan jasa penilai atau membuat keputusan investasi.
Perbedaan Nilai Pasar dan Nilai Likuidasi
Tabel berikut merangkum perbandingan antara dua konsep utama berdasarkan definisi sebelumnya.
| Aspek | Nilai Pasar | Nilai Likuidasi |
|---|---|---|
| Waktu Pemasaran | Cukup waktu untuk promosi dan negosiasi | Sangat terbatas, penjualan cepat |
| Kondisi Transaksi | Normal, tanpa tekanan | Terpaksa atau terburu-buru |
| Tujuan | Memaksimalkan hasil jual | Mendapatkan dana tunai secepat mungkin |
| Risiko & Diskon | Rendah | Tinggi, ada potongan harga |
| Hasil Nilai | Lebih tinggi | Lebih rendah dari nilai pasar |
Sebagai contoh, gedung kantor di lokasi strategis dapat mencapai nilai pasar yang tinggi ketika pemilik menjualnya dalam kondisi normal. Namun jika pemilik harus menjualnya dalam waktu satu bulan karena tekanan finansial, maka nilai likuidasinya otomatis lebih rendah karena waktu pemasaran tidak mencukupi.
DJKN Kemenkeu menjelaskan bahwa penilai memperoleh nilai likuidasi dengan mengurangkan nilai pasar berdasarkan faktor pengurang yang muncul akibat terbatasnya kondisi penjualan.
Faktor yang Mempengaruhi Nilai Likuidasi
Menurut AccountingTools dan Eason Academy, terdapat dua bentuk utama likuidasi:
- Orderly-basis liquidation value – penjualan cepat namun masih terorganisir.
- Forced-basis liquidation value – penjualan dalam kondisi terpaksa dengan waktu sangat singkat.
Beberapa faktor memengaruhi besarnya selisih antara nilai pasar dan nilai likuidasi, antara lain:
- Likuiditas aset menggambarkan kemudahan penilai atau pemilik dalam menjual aset tersebut.
- Kondisi pasar saat itu.
- Biaya penjualan atau biaya hukum.
- Durasi pemasaran yang tersedia (FasterCapital).
Dengan memahami faktor-faktor ini, penilai dapat memberikan estimasi yang realistis sesuai konteks bisnis atau keuangan.
Contoh Studi Kasus

Mengutip dari laman cluetejournals.com. Penelitian oleh T. Maurice Lockridge, Gary Saunders, dan Uma Sridharan berjudul “Can Fixed Asset Liquidation Values Predict Stock Market Returns?” menemukan bahwa perusahaan dengan nilai likuidasi aset tetap tinggi cenderung memiliki kinerja pasar saham yang lebih baik. Hal ini menunjukkan bahwa pasar memperhitungkan potensi penjualan aset dalam skenario terburuk sebagai indikator kekuatan finansial. (Clute Journals).
Asti Widyahari (Kongres ASEAN Valuers Association, 2019) menyatakan bahwa Market Value menggambarkan nilai transaksi pada kondisi pasar wajar, sementara Liquidation Value menunjukkan nilai yang muncul ketika penjualan dilakukan secara cepat karena tekanan waktu. (asean-valuers.org).
Kedua studi tersebut menyimpulkan bahwa nilai likuidasi bukan sekadar angka, melainkan juga mencerminkan tingkat risiko dan likuiditas suatu aset.
Rekomendasi Praktis untuk Penilai dan Investor
Untuk meningkatkan akurasi analisis, Valtech Valuation Advisory dan BusinessManagementEconomic.org merekomendasikan langkah-langkah berikut.
- Pilih dasar penilaian sesuai konteks.
Gunakan nilai pasar ketika Anda menjual aset dalam kondisi normal. Namun jika kondisi darurat atau tertekan, gunakan nilai likuidasi. - Hitung faktor pengurang secara realistis.
Penilai harus mengurangkan waktu pemasaran yang pendek, biaya lelang, serta risiko hukum dari nilai pasar untuk memperoleh estimasi nilai likuidasi yang wajar. - Gunakan tabel perbandingan dalam laporan.
Menyajikan perbandingan visual antara nilai pasar dan nilai likuidasi membantu klien memahami risiko penjualan cepat secara lebih jelas.
Banyak penilai sering mengabaikan indikasi nilai likuidasi, padahal bagian ini sangat penting dalam analisis penilaian aset. Penilai menggunakan nilai likuidasi untuk memperkirakan secara realistis jumlah dana yang dapat diterima ketika aset harus dijual cepat dalam kondisi kurang ideal.
Berbeda dari nilai pasar yang mencerminkan kondisi normal, nilai likuidasi menggambarkan skenario ekstrem atau worst-case scenario. Pemahaman keduanya membantu penilai, kreditur, dan investor membuat keputusan yang rasional, terutama di masa ekonomi yang tidak pasti.
Mengabaikan perbedaan antara nilai pasar dan nilai likuidasi dapat menimbulkan kesalahan strategi besar baik dalam menentukan harga jual, menetapkan jaminan, maupun menilai risiko bisnis. Oleh karena itu, penilai harus selalu menyesuaikan dasar penilaian dengan kondisi nyata dan kebutuhan analisis.***